Tanggapan Figur Esports Soal Karir Joki di Game

Tanggapan Figur Esports Soal Karir Joki di Game

Tanggapan figur esports soal karir joki di game. Joki bukanlah aspek baru dalam dunia game kompetitif. Industri tak lepas dari kiprah para penjoki yang meruap keuntungan buah dari skill dan kemampuan mereka memenangkan game yang mungkin sulit dilakukan oleh pemain biasa.

Tanggapan Figur Esports Soal Karir Joki di Game

Tanggapan Figur

Ada kalangan yang menilai joki adalah profesi terlarang karena merugikan pemain lain. Ada juga yang melihat joki sebagai sebuah jawaban atau problema gamer yang tak punya waktu bermain game namun perlu predikat mumpuni demi kebuthan karir, sosial dan lain sebagainya.

baca juga: Hero Yang Sering Muncul Karena Skill Yang Mumpuni di MPL 5

Membahas soal joki, Esports. ID membahas perihal ini kepada emapat narasumber yang sudah berkecimpung lama di dunia esports. Ada Gerry Eka, download joker123 sosok host presenter, caster, MC esports papan atas, Muhammad Akbar Priono alias Acil alias Uncanny seorang jurnalis esports, caster sensasional Adji Sven serta talent baru mantan orang penting di Moonton yakni Ko Lius Andre.

Para Penjoki

Mereka punya pengalaman tersendiri soal joki. Gerry Eka menciptakan pengalaman masa lalunya ketika menyewa jasa penjoki untuk game-game RPG. Kemudian, joki beralih istilah menjadi boosting ketika masuk dunia esports. Scene Arena of Valor jadi eksample paling nyata yang ia tahu marak aktivitas penjokian. Tujuannya macam-macam, ada yang ingin winrate tinggi, ada yang mau mencapai rank spesifik dan lain sebagainya. Tentu, joki tak muncul sedari AoV saja, sejarahnya jauh lebih panjang dari itu.

 Esports

Menurut Adji, kelahiran joki malah buah kebutuhan gamer yang memerlukan bantuan lewat keistimewaan ekonomi yang ia miliki. Ada player yang tak punya waktu untuk main terus-terusan, namun ia punya uang untuk menyewa joki agar akun gamenya tetap releven. Alasannya mereka pun bervariasi, live22 register ada yang mau ditongkrongan kalau punya rank rendah, ada juga yang menggunakan joki untuk keperluan kerja mereka di bidang esports asalkan penggunaan joki tidak masuk ke ranah profesioanal atau kompetisi.

Berbeda dengan Acil Uncanny yang perpandangan kalau joki bukan tindakan yang baik untuk ekosistem esports, apapun alasannya. Banyak pemain baru yang perimis memulai game ketika barhadapan dengan penjoki. Meski berupa asumsi benar tidaknya seseorang bertemu dengan penjoki atau hanya pemain yang kebetulan jago, perbedaan skill yang mereka alami sangat kentara jauh. Akhirnya, banyak pemain yang meninggalkan game tertentu karena menjamurnya penjoki.

penjoki

Ko Luis

Ko Luis turut menanggapi problema joki, terlbih Moonton belum lama mengeluarkan kebijakan melarang karir joki untuk pemain yang berkiprah di MPL. Rencananya peraturan tersebut diakuinya dibahas saat ia masih menjabat sebagai esports manager di Mooton, atas dasar keluhan para owner tim. Banyak memiliki tim yang merasa aktivitas joki membuat pemain mereka kurang fokus menjalani kompetisi. Karena banyak efek negatifnya, Moonton pun melarang perjokian dan penjualan Diamond.

Fakta mengejutkan, Ko Luis menyebut kalau joki cukup menguntungkan sebagai sampingan. Bahkan ada yang meraup omset 1 juta rupiah tiap minggunya. Dengan tekanan pekerjaan yang jauh lebih ringan ketimbang jadi pro player serta waktu fleksibel, tak heran kalau karir joki sulit diabaikan.

Tanggapan Figur

Lalu, mengapa seseorang memilih karir penjoki? menurut Adji, penjoki ini adalah orang-orang yang punya skill selevel dengan pemai profesional. Mereka sudah sangan dekat dengan hingar bingar turnamen resmi namun gagal menembus persaingan karena barbagai faktor.

Ada pemain yang mandek karir pronya karena tak cocok dengan tim atau rekannya. Ada pula yang tergiur karena keuntungan yang lebih pasti. Penjoki dibayar sesuai perjanjian dengan konsumen dan mendapat penghasilan harri itu juga. Sedangkan karir pro player butuh waktu lebih panjag karena semua keuntungan tergantung keberhasilan turnamen yang mereka jalani. Walau, mereka mendaptkan gaji perbulan sebagai jaminan, tentu rak ada salahnya menambah pendapatan dengan karir joki sebagai alternatif yang memungkinkan.

Sampai saat ini, belum ada kebijakan eksplisit yang melarang joki game esports di Indonesia. Ko Luis menyebutkan peraturan yang tertera pada game tertentu hanya melarang memindahtangankan akun ke orang lain karena beresiko tinggi di retas. Mooton pun enggan meladei player yang bermasalah dengan login akun apabila pernah ketahuan berurusan dengan joki. Terkait kebijakan baru MPL pun, Gerry Eka merasa peraturan tersebut belum terlalu tegas melarang joki, karena ada celah yang memungkinkan penjoki tetap berjualan hanya dengan berganti alias yang tidak terdaftar di database turnamen MPL.

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*