Coach Fnatic SunBhie Lontarkan Kritik Pro-Scene DOTA 2

Coach Fnatic SunBhie Lontarkan Kritik Pro-Scene DOTA 2

Coach fnatic sunbhie lontarkan kritik pro-scene dota 2. Lee SunBhie Jong-jae keluhkan sistem kompetitif turnamen DOTA 2 dalam cuitan terbarunya. Menurut pelatih tim Fnatic tersebut, turnamen-turnamen kompetitif DOTA 2 kurang memberi porsi terhadap tim-tim menegah dan kecil. Ia menilai Valve perlu meninjau kembali wadah bagi para tim-tim 2 untuk berkembang menjadi lebih besar lagi.

Coach Fnatic SunBhie Lontarkan Kritik Pro-Scene DOTA 2

Coach Fnatic SunBhie Lontarkan Kritik Pro-Scene DOTA 2

Cuitan tersebut merupakan tanggapan dan tim 2 Europe, Vikin.gg yang 918kaya baru-baru ini memenangkan turnamen minor. Tim yang baru berumur satu tahun tersebut memiliki komposisi tim yang cukup baik. Terbukti setelah memenangkan helatan The Summit 13 kemarin, mereka tampak mendominasi dalam turnamen EPIC League.

Coach Fnatic SunBhie Lontarkan Kritik Pro-Scene DOTA 2

Menurut SunBhie, meroketnya tim tier 2 merupakan hal yang lumrah dalam game seperti DOTA 2 dan League of Legends. Bahkan, kampiun pagelaran LOL Worlds 2020 baru saja usai merupakan panjatan Tier 2, Damwon Gaming. Terakhir kali DOTA 2 dikagetkan atas gemilangnya tim kuda hitam terjadi kala Wings Gaming menjuarai The International 6.

Coach Fnatic SunBhie Lontarkan Kritik Pro-Scene DOTA 2

Sepakat dengan SunBhie, talent perempuan asal Kanada Leah Reinessa menimpali argumen pelatih Fnatic tersebut. Menanggapi cuitannya, ia menambahkan buruknya ekosistem Valve dalam menjalankan turnamen. Menurutnya, DOTA 2 terlalu terhadap turnamen xe88 register akrabnya, The International, sehingga mengabaikan skema kompetitif lokal.

Riot Games

Ia juga menyadingkan bagaimana bekerjanya turnamen kompetitif DOTA 2 dengan League of Legends. Ujarnya mudah saja bagi Riot Games untuk menyediakan prizepool yang bombastis seperti The International. Namun, mereka lebih memilih untuk menjalankan sistem yang lebih ramah bagi segala pihak. Yakni memproduksi konten dan storyline yang lebih berkelanjutan sehingga para pegiat LOL mendapatkan upahnya.

League of Legends

League of Legends sendiri sudah konsisten menghadirkan turnamennya dalam beberapa liga regional seperti League of legends Championship Series [LCS] di Region Amerika, League of Legends European Championship [LEC] di region Eropa, League of Legends Premiere League [LPL] di region, Tiongkok, serta League Champions Korea [LCK] di region Korea.

baca juga: Tangis Rizky Faidan Pecah Usai Menangkan IFeL Season 1

Tingkat kasta liga tersebut juga dinilai baik oleh pundit kenamaan DOTA 2 Kyle Freedman. Menurut Kyle, jika para pro players DOTA 2 berimpian dapat berkompetisi di panggung The International, para pemain LOL hanya mampu bermimpi untuk dapat bermain di liga kasta tertinggi region mereka. Singgungan tersebut nampaknya cukup menyenggol pertandingan kualitas ekosistem pro-scene antar kedua game.

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*